RSS Feed
Welcome
image

CMS KOMA

CALL US: 022-765-9-4000

Cek Nama Domain

Cek Nama Domain ?

rongan

pagi-pagi subuh rahayu kembali bekerja, seperti biasa rongan juga sudah ada di sana, rahayu tau kenapa rongan selalu datang lebih awal dan pulang lebih ahir darinya, tapi tidak ada keberanian membahasnya. berjalan mundur adalah keahlian khusus yg dipelajarinya sewaktu menancapkan bibit2 padi di hari menanam ke tempatnya hingga rapi lurus tertata sawah dibuatnya. itu dilakukannya sambil sesekali melirik ke arah rongan. setiap 3 jam sekali rahayu akan berhenti dan berteduh di bawah pohon waru rindang berbatang besar, menyalakan api dari kayubakar, memanaskan air yg diambilnya dari mata air desa dalam jerigen plastik 10 liter oleh-oleh pamannya dari surabaya yg sudah agak memudar warna putihnya, menuangnya dalam ceret, memanaskan air terus menyeduh teh atau kopi sesuai permintaan buruh lainnya, kadang dia berpikir kenapa tidak menjual saja minuman soda yg menyegarkan, selain praktis sepertinya akan lebih menguntungkan, sambil mencuri pandang ke arah rongan. heran wajahnya selalu terasa panas jika kebetulan pandanganya tepat bertemu mata rongan yg besar lagi tajam.

ibunya yg lama telah tiada memberinya nama ningsih dibelakang rahayu yg menurut mbah putri terlalu pendek, bapaknya, pak urip sudah tua, rematik dan asam urat pun kadang menjangkitinya, menggiring kerbau pembajak kini tak sanggup dilakoninya. dulu, kala pak urip masih mampu membayar biaya seragam dan buku pelajaran di sekolah sd satu2nya di kampungnya, teman2 sebaya melengkapi namanya dengan urip, rahayu ningsih urip jadi nama lengkapnya, ra ayu ning isih urip julukannya.
sekarang rahayu tinggal sendiri bersama bapaknya, putri sulung piatu, semua adiknya yg 2 orang itu lebih cantik darinya, enggan berurusan dengan bau pupuk dan tai kerbau sepetak sawah yg toh hanya milik pak lurah, punya lebih banyak kesempatan untuk bekerja dikota, bahkan kabarnya sudah laku jadi istri pengusaha kaya, dalam doanya rahayu berharap mudah2an mereka tidak jualan dada dan paha.
upahnya memburuh sehari hanya 10 ribu rupiah dan 50 kilo beras jika panen 3 bulanan bibit padi yg unggulan tidak gagal, namun itu tidak menurunkan semangatnya mendampingi dan menghidupi bapaknya yg makin uzur usia.

tak ada jejaka desa maupun duda dan suami muda yang bernapsu melihat legam hitam kulitnya kerap terbakar terik matahari, dadanya yg rata dan pantat teposnya, apalagi hasrat meminangnya, kadang getir pedih dirasa mengingat nasibnya.
tapi rongan sudah dianggap sahabatnya, rahayu tak mau tau apa pendapatnya tentang dirinya, pemalu pendiam sifat rongan pendengar setia, semua uneg2 kesal hatinya lampias pada rongan seorang, rongan bagai blognya walau listrik dan internet belum menjangkau desanya. rongan adalah penurut yg tak menuntut pantang merengut, hatinya lebar, jiwanya besar, lagi senyumnya itu selalu segar. diam2 rahayu mengaguminya, terlalu gila pikirnya jika dia mengungkapkan cinta dalam kata.

rongan hanya orang2an sawah buatan bapak beberapa tahun yg lalu, saat rambutnya belum banyak yg jadi kelabu, walau rongan mungkin merana karena tugasnya yg mulia mengusir burung lapar kini mulai tersingkir oleh bedil abg labil tengil, tapi rahayu tetap menata rambut ijuknya, mencuci caping lebarnya, kadang menisik sobek2 di kemejanya, dan tak lupa mencium pipi di kedua sisinya saat meninggalkannya karena masih terngiang samar kisah ibu guru nani tentang pangeran kodok atau cinderela waktu masih sekolah dulu, berharap suatu hari rongan menjelma jadi manusia sepertinya, tak ganteng tak jadi apa daripada nggak ada, isi lubuk hatinya.

sore itu, rahayu sengaja lebih lama tinggal di sawah, menunggu ibu2 buruh lainnya berkemas pulang, dia bertekad untuk memberikan sesuatu yg tidak biasa untuk rongan. dia menunggu sampai tenggok pada punggung ibu terahir tampak tinggal sebesar ibujarinya, mendekati rongan, mengangkat capingnya, menyibak rambutnya yg hitam dan mencium pada bibirnya yg dipulas merah menyala sambil setengah menutup matanya, mundur selangkah dan tersenyum manis, hening, rongan pun tetap tersenyum seperti sediakala. sayang batinnya, dulu bu nani kurang detail menceritakan peristiwa penciuman kodok, atau hanya dia yg tidak kritis menanggapi kisah itu, sehingga lupa menanyakan hal yg sebetulnya cukup penting, di mana tepatnya kodok itu dicium, karena di kedua pipi, kening, bahkan bibir seperti barusan dia lakukan nampaknya tidak mempan. rahayu tertawa kecil melirik nakal ke arah pangkal kedua kaki jerami rongan, menertawakan dirinya, membayangkan gunjingan yg bakal terjadi jika ada yg memperhatikan tingkah anehnya. ah sudahlah, gumamnya sambil mengibaskan tangan, berbalik membereskan ceret dan gelas, lalu berjalan pulang melalui pematang, sampai besok ronganku sayang, bisiknya menoleh ke belakang, tatapnya nanar memandang tonggak kayu penopang rongan yg kini kosong, kaget dan bingung, rahayu berlari mundur, keahlian yg ini belum pernah dipelajari sebelumnya, walau dia terbiasa berjalan mundur, berlari mundur adalah hal yg sama sekali berbeda, pematang licin juga jadi kendalanya. hal terahir yg dilihatnya adalah ceret dan gelas yg melayang2 tepat di depan matanya, benturan keras di kepala, denging nada tinggi di telinga saat seberkas cahaya putih sangat terang menerpa wajahnya, samar2 nampak pula wajah bapaknya, tak lama ajalpun menjemputnya.

rahayu merasa asing, apakah seperti ini yg disebut surga, kenapa bukan ibunya yg dia kira sudah di sana yg datang menjemput melainkan bapaknya yg masih kuat dan muda yg mengangguk2 lembut padanya? semua pengalaman masa kecil bersama orangtuanya segera terlintas di hadapannya, agak kabur tapi tetap menyerupa, bayangan wajah bapaknya makin lama menjauh, jauh, dan hilang berganti dengan tatapan lembut tapi tajam pemuda gagah tampan bermata besar, lengan kekar kirinya menumpu tengkuknya sementara yg kanan menyeka darah di keningnya.
bangun rahayu, kamu tadi pingsan, kepalamu terantuk batu saat terpeleset, katanya.
rahayu yg sadar dia sedang berada di pangkuan orang asing di bawah pohon waru rindang, segera bangkit berusaha melepaskan diri berteriak sekuatnya, siapa kamu, hah siapa kamuu??? namun rasa pening di pelipisnya dan kakinya masih belum mampu menopang berat badannya membuatnya terhuyung, pemuda itu cekatan, menangkap tangan rahayu dan kembali mendekapnya, tenang ayu, rahayu.. aku rongan sahabat dan kekasihmu. rahayu merasa seakan kembali pingsan mendengarnya, rahayu, ketekunan kegigihan dan kesabaranmu telah menggugah hatiku, katanya, kenalkan aku dengan bapakmu. apa? rongan?? rongan? benarkah ini kamu? apakah ini mimpi?? cerocos rahayu antara percaya dan tidak. belum pernah dia merasa sebahagia ini. rahayu bergelayut mesra pada lengan rongan, pemuda itu menuntunnya berjalan pulang beriringan melalui pematang yang sama, lupa ceret dan gelas2nya.

15 menit berjalan, mereka sampai di beranda depan rumah tua warisan nenek buyut rahayu yg sederhana namun terpelihara baik kondisinya, pak.. aku pulang, kata rahayu terisak bahagia.
bapaknya tertatih2 membuka pintu dan saat itu juga rahayu terjaga, ruyuk ayam jantan tetangga membangunkannya, membawa hari dan membiarkan rongan kembali mengisi sisa hidu pnya. rahayu berberes lalu berkaca, tetap saja ra ayu wajahnya, tapi baginya mulai pagi ini dan seterusnya menjadi orang berguna, paling tidak untuk bapaknya, lebih berharga daripada segala2nya.

saat yg sama di kota ada pula rahayu-rahayu muda berdoa memohon penuh harap kapan jodoh tiba, minggu ke gereja, tiap pagi bermisa, siang bekerja sambil membuka2 facebooknya, malam berdoa, kadang mengutuki tuhan yg ceroboh atau lalai membiarkan dia lahir buruk rupa dan tiada kunjung mengabulkan doa2nya, bukankah pastor di gereja katedral kemarin minggu mereplika, mintalah maka akan diberikan padamu, tapi mana buktinya apa hasilnya, mereka tak kurang meminta, tak jarang berdoa juga rajin mengaku dosa. mengapa aku tidak mati saja? penipu kau pastor!, yg ada dimulutmu hanya dusta, penjual mimpi peneduh hati belaka, bahkan surga belumtentu ada kau berani bicara! mending kalau cuma2!!

mereka sama2 rahayu, yang satu punya hati yang memberi dan mengabdi, yg lain hanya bisa bersungut-sungut dalam hati.

 

Wed, 4 Nov 2009 @21:15


2 Komentar
image

Thu, 5 Nov 2009 @00:22

rudis

jandanya banyak tak

image

Thu, 5 Nov 2009 @06:44

sikoma

@rudis
jandanya ya banyak, tapi gak akan kubagi ke situ hiahahaa...


Tulis Komentar

Nama

E-mail (tidak dipublikasikan)

URL

Komentar

Kode Rahasia
Masukkan hasil penjumlahan dari 6+5+5

Komentar Terbaru







Chat dengan saya & teman saya
Ayo Daftar Sitekno...
Whhoaa...

IQ Test

XHTML/CSS Validator

Valid XHTML 1.0 Transitional Valid CSS!

SEO SCORE ???





Copyright © 2010 cms koma · All Rights Reserved



Powered by sitekno